Skip to main content

Militer Gulingkan Presiden Mesir

Kairo, kantorberita.net - Militer Mesir Menggulingkan Presiden Mursi dan mengangkat Ketua Mahkamah Konstitusi Mostashar Adli Mansou Menjadi Presiden Mesir Sementara Kamis (4/7/2013). Jabatan presiden sementara ini berlangsung hingga pemilu terselenggara.

Setahun Kepemimpinan Mursi diwarnai banyak aksi pelanggaran Hak Asasi Manusia, demokrasi dan toleransi beragama. Mursi dinilai gagal melakukan reformasi sektor keamanan terutama di kepolisian, paramiliter dan dinas intelijen Mesir. Mursi juga menampik ultimatum 48 jam yang ditetapkan oleh militer. Pihak militer mendesak Mursi menggelar rekonsiliasi untuk menyatukan kepala pemerintah dan oposisi.

Pada Rabu (3/7/2013), Militer Mesir melengserkan Presiden Mohamed Mursi dan menjadikan tokoh Ikhwanul Muslimin ini sebagai tahanan rumah. Berbarengan dengan itu, mereka membacakan "peta jalan" berisi rencana detail untuk mengembalikan Mesir ke jalur demokrasi.

Presiden Mesir Mohammad Mursi kabarnya kini ditahan di sebuah fasilitas militer bersama dengan para pembantu utamanya. Informasi ini disampaikan seorang anggota senior Ikhwanul Muslimin, Kamis, 4 Juli 2013, seperti diberitakan Tempo.

"Mursi dan seluruh tim kepresidenan berada dalam tahanan rumah di Klab Garda Republik Kepresidenan," kata Gehad El-Haddad, putera salah satu pembantu Mursi, kepada Kantor Berita AFP. Ayah Haddad, Essam El-Haddad, yang dipandang sebagai tangan kanan Mursi, termasuk diantara yang ditahan.

Juru bicara militer tidak menanggapi permintaan untuk mengkonfirmasi penahanan Mursi. Juga belum jelas apakah presiden yang digulingkan itu kemudian akan diperbolehkan meninggalkan tempat tersebut.

Adli Mansour lahir pada 23 Desember 1945. Dia lulusan Fakultas Hukum Universitas Kairo pada 1967, serta meraih gelar master tahun 1969.

Mansour memulai kariernya di Departemen Kehakiman tahun 1970 hingga duduk sebagai wakil ketua Mahkamah Agung tahun 1992, sebelum akhirnya dipromosikan sebagai Wakil Pertama Ketua Mahkamah Konstitusi. Pada Senin 1 Juli 2013, dia diangkat menjadi Ketua Mahkamah Konstitusi dengan persetujuan Dewan yang juga menyetujui Mursi menjadi presiden.

Stasiun TV Mesir Ditutup
Militer Mesir menutup beberapa stasiun televisi berita, termasuk satu yang dioperasikan oleh Ikhwanul Muslimin, menyusul penggulingan Presiden Muhammad Mursi, Kamis 4 Juli 2013.

Pasukan keamanan juga menggerebek kantor saluran berita Al Jazeera Mesir. Sedikitnya lima stafnya ditahan, kata Karim El-Assiuti, salah satu wartawan media itu. Belakangan, empat dari mereka kemudian dibebaskan.

Selain itu, salahsatu channel Al Jazeera Mubasher Misr juga dilarang mengudara. Sebagian awaknya ditahan.

Stasiun Al Jazeera Mesir dikenal luas dengan siaran beritanya yang berani dan independen. Liputan mereka mengenai revolusi Mesir pada 2011 yang menggulingkan Presiden Hosni Mubarak mendapat sambutan positif. Tapi belakangan, militer menuding stasiun TV ini terlalu bersimpati kepada Ikhwanul Muslimin dan Mursi.

Selain Al-Jazeera, militer juga menutup satu saluran TV milik Ikhwanul Muslimin, Egypt25.  Satu manajer stasiun TV itu ditangkap tak lama setelah Jenderal Abdul Fatah al-Sisi, Kepala Angkatan Bersenjata Mesir, mengumumkan rencana untuk transisi politik yang baru.

Kantor berita negara MENA melaporkan pihak berwenang juga menutup dua stasiun yang dikelola kubu Islam lainnya, Al-Hafiz dan Al-Nas. Kedua media ini berafiliasi dengan gerakan Islam Salafi yang radikal.

"Kami prihatin dengan laporan bahwa pihak berwenang menutup liputan televisi berdasarkan perspektif politik," kata Sherif Mansour, ketua Committee to Protect Journalists yang berbasis di New York. "Kami mendesak militer untuk tidak mencabut sumber informasi aktual saat ini di Mesir. (DIN-KBN)